12.9.11

opportunity cost

selamat pagi..
saya menulis ditemani 'down river' - the temper trap.. :)

sudah lama sekali tidak coratcoret di laman ini. yayaa, pasti beberapa orang sudah bisa menebak bahwa kalimat itu yang akan saya sebutkan sebagai prolog manakala saya sudah lama tidak coratcoret di sini. 'alasan' dan 'tipikal' mungkin menjadi dua kata yang akan mereka keluarkan untuk mengomentari prolog yang saya gunakan.

hmm.. apa kabar? semoga segala hal yang baik dan menyenangkan melekat pada siapa saja yang membaca tulisan ini. kabar saya? to be honest super gak jelas, hehe.. yapp, belakangan jam di hidup saya memang berputar sangat cepat. begitu cepatnya hingga sering tak terasa, dia sudah berputar sempurna, mempertemukan saya dengan pagi (kembali).

berkaitan dengan judul tulisan ini, saya akan mulai dengan cerita tentang kegiatan baru saya. mulai pertengahan bulan lalu, saya punya kegiatan baru. kegiatan yang membuat saya kembali duduk di kampus, dan--kali ini--berdarah-darah, hehe.. ada banyak hal yang menjadi penyebabnya: waktu kuliah, materi, kelelahan fisik, dan sebagainya. itu baru perkara teknis, belum berbicara tentang major yang saya ambil yang memang berbeda 180 derajat dari major di kelas regular. masih sama-sama di ranah sosial, tapi jika dulu saya berjibaku dengan pilihan kata dan kalimat, kali ini saya akan dihadapkan pada sederetan angka dan grafik sebagai landasan kerangka berpikir.

lalu mengapa saya terkesan bunuh diri? lagi-lagi ini perkara pilihan dan keyakinan. bunuh diri jika dibandingkan dengan jurusan saya sebelumnya, tapi semoga jadi tidak bunuh diri saat berbicara masa depan. dan untuk itu, saya hanya punya modal nekat dan bismillah memulainya, :)

yayaa, biarlah itu menjadi bagian dari cerita saya ke depan ya: soal paper, ujian tengah semester, dosen killer, dan banyak lagi. apa yang akan saya share berikutnya adalah perkara opportunity cost yang harus saya bayar ketika saya berada di kelas. yah, meski kelas reguler baru akan dimulai hari ini, paling tidak saya sudah bisa mencicipi akan seperti apa rasanya ketika saya menjalani kelas matrikulasi (baca: pembekalan) selama tiga minggu belakangan.

lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan opportunity cost. wikipedia mendefinisikan opportunity cost sebagai berikut: Opportunity cost is the cost of any activity measured in terms of the value of the best alternative that is not chosen. sederhananya, opportunity cost merupakan second best alternative yang tidak dipilih, atau terpaksa ditinggalkan karena kita memilih yang pertama.

adalah bohong besar ketika saya merasa tidak ada yang terpaksa dikesampingkan dengan jatuhnya pilihan saya untuk melanjutkan kuliah lagi. ruang kehidupan sosial dan jam istirahat merupakan opportunity cost yang paling jelas dan nyata. selama kelas pembekalan, saya sampai di rumah paling cepat sekitar pukul 22.00 WIB dan biasanya langsung menuju ke kamar karena sudah setengah tewas. jujur, saya agak sedih terpaksa menjadi orang yang harus ada di posisi itu. tapi perkaranya, cuma itu pilihan yang saya punya sebagai akibat dari pilihan saya yang lain. saya toh tidak akan pernah bisa memenangkan keduanya, bukan?

opportunity cost lainnya adalah ruang kehidupan sosial yang sekarang mau tidak mau porsinya harus dikurangi. jika sebelumnya saya bisa making appoinment sesukanya, sekarang hanya akan tersedia ruang di weekend untuk sushi dan kawankawan. juga hanya akan ada meeting point di sekitar salemba pada hari selasa-kamis.


lantas
, jika opportunity cost bisa bertingkat, kamu adalah yang berikutnya.




No comments: